I am Quchie.
I'm not beautiful like you. I'm beautiful like ME.
chierita - January 23, 2012 10:02 AM - Text
Saya dan Matematika

Saya suka matematika. Hmm.. tidak! Saya cinta matematika. 

Sejak kecil saya sudah “dicekoki” matematika oleh mama saya. Beberapa buku soal matematika mama berikan untuk saya santap. Dari “cekokan” tersebut muncullah cinta itu. 

Cinta tidak selalu mulus. Saya tidak hebat di bidang ini, saya hanya menyukai mencari tahu jawaban dari setiap teka-tekinya. 

SD. Saya pernah mendapatkan nilai 0 di ulangan harian matematika saya. Syok? Jelas saja! Ketidaktelitian. Jelas saja saya mendapatkan nilai 0, soal pengurangan saya kerjakan dengan penambahan semua. Nangis.

SMP. Ketika itu saya baru pulang dari liburan (bolos sekolah selama 1 bulan), ulangan harian, ulangan susulan berbaris di depan mata saya. Satu ulangan matematika, bukan susulan, satu minggu setelah saya masuk sekolah lagi. Tidak mengerti apa-apa, saya kerjakan ulangan itu. Hampir saja ulangan saya itu tidak diterima guru saya, karena saya mengumpulkannya tidak tepat pada waktunya. Kertas ulangan saya dirusak di depan kelas, tidak disobek, hanya dijadikan bola kertas, saya memelas, akhirnya diterima juga kertas itu. Dua koma sekian saya dapatkan. Sakit.

SMA. Kelas 1 saya ditawarkan mengikuti olimpiade matematika, secara tiba-tiba! Penyeleksian tingkat kota. Tanpa belajar apa-apa, tanpa latihan apa-apa, di hari H saya dipanggil untuk berangkat! Sebenarnya sudah diberi tahu beberapa hari sebelumnya, yang saya tidak tahu: hari dan tanggal saya harus menghadapi olimpiade tersebut, mungkin sebenarnya diberi tahu, tapi saya kurang memperhatikan. Gagal.

Kuliah. Matematika 1 (Linear Algebra 1 & Analisis 1) berjalan lancar. Matematika 2 (Linear Algebra 2 & Analisis 2) tersendat. Ujian saya gagal di kesempatan pertama. Satu bulan setelahnya saya mengerjakannya lagi, gagal lagi. 2 kali gagal artinya saya hanya punya 1 kesempatan lagi, kalau di kesempatan ketiga gagal lagi saya harus mengikuti oral test (kalau oral test ini gagal juga, terpaksa saya harus pindah universitas).

Semester berikutnya, saya harus mengikuti ujian itu, padahal di semester itu mata kuliah ini tidak diadakan, tidak ada kelasnya. Surat dokter. Terpaksa saya pura-pura sakit, demi mendapatkan surat dokter dan tidak mengikuti ujian. Saya tidak siap dengan ujian ini. Saya merasa harus mengikuti kelasnya lagi.

Semester berikutnya lagi, saya ikuti kelasnya lagi. Ujian pun saya ikuti, alhamdulillah lulus, walau dengan nilai pas-pasan.

Ya.. memang cinta itu tidak selalu berjalan mulus, cinta itu tidak menandakan bahwa kita tahu semua tentang apa yang kita cintai. Tapi adanya keinginan untuk tetap terus mencari tahu.

Mungkin, cinta sejati itu ya seperti ini, tetap mencintai walau banyak rintangan. :”)

chierita - January 19, 2012 10:43 AM - Photo
DANCE MORE!! *joged poco²*

DANCE MORE!! *joged poco²*

(via thesilentheartbeat)

chierita - January 19, 2012 12:55 AM - Text

thesilentheartbeat:

Alhamdulillah :) For everything. No matter how hard it is, stay positive. Enjoy the blessings. You are here. You have lived yet another day. It is not the end. You will be okay. 

:’)

chierita - January 18, 2012 7:21 PM - Photo
<3
winurdewinur:

gatau kenapa kok rasanya soswit banget :’)

<3

winurdewinur:

gatau kenapa kok rasanya soswit banget :’)

(Source: thesilentheartbeat)

chierita - January 18, 2012 12:15 PM - Chat
Efek Bahasa Jerman
  • Mama: teh.. ambilkan A di keller!
  • Gw: *nyari² di keller (bahasa jerman: ruang bawah tanah)*
  • Gw: di mana mah? ga ada!
  • Mama: itu di lemari sebelah kompor!
  • Gw: ai mama kenapa tadi bilangnya di keller?
  • Mama: hahaaa.. iya keller bahasa sunda (toples)..
  • #jdaaaang!
chierita - January 17, 2012 9:29 PM - Photo
Hamburg (Taken with picplz.)

Hamburg (Taken with picplz.)

chierita - January 11, 2012 5:30 PM - Chat
Tiada Tuhan Selain Allah
  • Saya: Oh my God, dingin banget!
  • Temen (atheis): saya kira Tuhan kamu itu Allah.
  • Saya: iya.. kenapa?
  • Temen: kenapa bilang God? Emang boleh bilang God?
  • Saya: .... *menjelaskan arti kalimat pertama syahadat*
  • Temen: oh.. ok..
chierita - January 9, 2012 11:09 PM - Video

COOL!!

chierita - January 6, 2012 9:55 PM - Text
Penampilan?

Terinspirasi dari tweet seoran teman:

Penampilan mencerminkan kepribadian. Silahkan berpakaian terserah anda tapi jangan salahkan apabila penilaian orang tidak sesuai harapan.

- @mimomi

Emang bener penampilan mencerminkan kepribadian. Saya sendiri orangnya cuek dan dalam keseharian berpakaian cuek. Prinsip saya cuma: “Yang penting enak dipakai”. Mungkin ada pengecualian kalau dalam event tertentu, yang mewajibkan saya berpakaian seperti ini seperti itu.

Berapa tahun tinggal di Jerman, yang masyarakatnya cenderung cuek dengan penampilan orang, saya bisa enak-enak aja kemana-mana tanpa adanya tatapan-tatapan aneh dari orang sekitar. 

Kecuekan ini saya bawa ke Indonesia ketika saya pulang.

Saya masih jadi diri saya yang cuek. Ga ada lah istilah “kan gw tinggal eropa harus gaya donk!” *maaf, kalo ada yang tersinggung dengan kalimat ini, kadang ada aja kan orang seperti ini*.

Kadang kalau dibandingkan dengan teman-teman saya, bisa dibilang saya ini ga modis. Peduli amatlah.. saya bukan orang yang ngikutin mode. Kalau mereka teman saya, toh mereka menerima saya apa adanya.. :P *halah ngomong apa toh chie!*

Mereka yang kenal saya, tahu saya. Mereka yang tidak kenal, bisa saja memandang saya berbeda. 

Sekali waktu, hmm.. bukan sekali waktu sih beberapa kali sering malah, saya masuk ke toko. Mungkin dengan gaya saya yang terlihat seperti “ini orang ga punya duit!”, dari saya masuk toko sampai keluarnya, saya dilihatin terus sama sang penjaga toko. Nampak saya ini mau mencuri saja. Agak risih juga, akhirnya saya pergi saja. Hey, penjaga toko! Itu rugi di kalian, kalau aja saya ga dilihatin gitu, bisa jadi saya menemukan barang di toko kalian, dan saya membelinya!

Saya jg ga akan masuk toko yang sekiranya saya ga mampu beli barangnya kali! Kecuali kalau pengen membandingkan harga di Indo dan di Jerman. Pernah saya masuk ZARA di GI, Jakarta, itu saya masuk juga ditatap aneh, ckck.. ogah jg sih belinya, harganya murahan di Hamburg apalagi kalau musim sale! :P *Btw, ZARA di sini lebih cenderung buat kalangan kelas menengah sih, beda sama di Indo yang dianggapnya WAH!*

Keluarga saya pun punya prinsip yang mirip-mirip dengan saya dalam berpakaian. 

Ada 1 kejadian. Mama saya masuk 1 toko, nanya harga pada si penjual, penjual pun menjawab: “MAHAL!”. Hey! menghina? Mungkin karena jengkel, mama pun berpindah toko, ke toko depannya, dan membeli banyak barang, keluar toko sambil memperlihatkan barang belanjaannya kepada si penjual sombong tadi. HAHAHA..

Entah apa yang ada di pikiran orang kalau melihat penampilan kita. Tapi dengan kecuekan kami ini, kadang ada untungnya juga! Kalau masuk toko yang mungkin bisa dibilang “kami lebih cocok masuk toko seperti ini” » seperti misalnya ke pasar baru. Lumayanlah dapet harga diskon! :P

*maaf kalau tulisannya malah jadi kayak yang curcol, aneh juga kemana² semacam ga ada tujuan saya nulis ini untuk apa? sebenernya untuk refreshing aja lagi mumet sama tugas* :))) #stress

chierita - January 4, 2012 12:32 PM - Link
Islamic Thinking: The Pencil and Eraser

I’m sorry…

islamicthinking:

PENCIL
I’m sorry

ERASER
For what? You didn’t do anything wrong.

PENCIL
I’m sorry because you get hurt because of me. Whenever I made a mistake, you’re always there to erase it. But as you make my mistakes vanish, you lose a part of yourself. You get smaller and smaller each time.