Saya suka matematika. Hmm.. tidak! Saya cinta matematika.
Sejak kecil saya sudah “dicekoki” matematika oleh mama saya. Beberapa buku soal matematika mama berikan untuk saya santap. Dari “cekokan” tersebut muncullah cinta itu.
Cinta tidak selalu mulus. Saya tidak hebat di bidang ini, saya hanya menyukai mencari tahu jawaban dari setiap teka-tekinya.
SD. Saya pernah mendapatkan nilai 0 di ulangan harian matematika saya. Syok? Jelas saja! Ketidaktelitian. Jelas saja saya mendapatkan nilai 0, soal pengurangan saya kerjakan dengan penambahan semua. Nangis.
SMP. Ketika itu saya baru pulang dari liburan (bolos sekolah selama 1 bulan), ulangan harian, ulangan susulan berbaris di depan mata saya. Satu ulangan matematika, bukan susulan, satu minggu setelah saya masuk sekolah lagi. Tidak mengerti apa-apa, saya kerjakan ulangan itu. Hampir saja ulangan saya itu tidak diterima guru saya, karena saya mengumpulkannya tidak tepat pada waktunya. Kertas ulangan saya dirusak di depan kelas, tidak disobek, hanya dijadikan bola kertas, saya memelas, akhirnya diterima juga kertas itu. Dua koma sekian saya dapatkan. Sakit.
SMA. Kelas 1 saya ditawarkan mengikuti olimpiade matematika, secara tiba-tiba! Penyeleksian tingkat kota. Tanpa belajar apa-apa, tanpa latihan apa-apa, di hari H saya dipanggil untuk berangkat! Sebenarnya sudah diberi tahu beberapa hari sebelumnya, yang saya tidak tahu: hari dan tanggal saya harus menghadapi olimpiade tersebut, mungkin sebenarnya diberi tahu, tapi saya kurang memperhatikan. Gagal.
Kuliah. Matematika 1 (Linear Algebra 1 & Analisis 1) berjalan lancar. Matematika 2 (Linear Algebra 2 & Analisis 2) tersendat. Ujian saya gagal di kesempatan pertama. Satu bulan setelahnya saya mengerjakannya lagi, gagal lagi. 2 kali gagal artinya saya hanya punya 1 kesempatan lagi, kalau di kesempatan ketiga gagal lagi saya harus mengikuti oral test (kalau oral test ini gagal juga, terpaksa saya harus pindah universitas).
Semester berikutnya, saya harus mengikuti ujian itu, padahal di semester itu mata kuliah ini tidak diadakan, tidak ada kelasnya. Surat dokter. Terpaksa saya pura-pura sakit, demi mendapatkan surat dokter dan tidak mengikuti ujian. Saya tidak siap dengan ujian ini. Saya merasa harus mengikuti kelasnya lagi.
Semester berikutnya lagi, saya ikuti kelasnya lagi. Ujian pun saya ikuti, alhamdulillah lulus, walau dengan nilai pas-pasan.
Ya.. memang cinta itu tidak selalu berjalan mulus, cinta itu tidak menandakan bahwa kita tahu semua tentang apa yang kita cintai. Tapi adanya keinginan untuk tetap terus mencari tahu.
Mungkin, cinta sejati itu ya seperti ini, tetap mencintai walau banyak rintangan. :”)